Produktivitas Sawit Rakyat Masih Rendah, Benih Unggul Berpotensi Hasilkan 10 Ton CPO per Hektare
YPASNEWS
PEKANBARU (RA) – Penggunaan benih unggul menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Pasalnya, produktivitas sawit nasional saat ini masih jauh di bawah potensi genetik tanaman.
Berdasarkan data 2025, rata-rata produktivitas sawit nasional baru mencapai 3,61 ton minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) per hektare per tahun. Sementara itu, produktivitas perkebunan sawit rakyat berkisar 3,1 hingga 3,5 ton CPO per hektare per tahun.
Padahal, dengan penggunaan benih unggul dan pengelolaan kebun secara optimal, produktivitas berpotensi mencapai 8-10 ton CPO per hektare per tahun.
Head of Research and Development Asian Agri, Edy Suprianto, mengatakan kesenjangan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi industri sawit nasional. Terlebih, perkebunan rakyat mencakup sekitar 42 persen dari total luas perkebunan sawit Indonesia.
Hal itu disampaikannya dalam Sesi 3 Indonesian Palm Oil Stakeholders Forum (IPOS Forum) 2026 di Medan, Sumatera Utara, pada 29 Oktober 2026.
Menurut Edy, ada tiga faktor utama yang menentukan peningkatan produktivitas sawit, yakni penggunaan benih unggul yang teruji, penerapan agronomi presisi, dan transfer teknologi.
Benih menjadi faktor penting karena menentukan batas atas potensi produksi tanaman sejak awal penanaman hingga masa produktif yang dapat mencapai sekitar 25 tahun.
Sementara itu, penerapan agronomi presisi diperlukan untuk mengoptimalkan potensi genetik melalui pengelolaan tanah, air, unsur hara, dan perlindungan tanaman. Transfer teknologi juga dibutuhkan agar praktik budidaya yang baik dapat diterapkan secara luas, termasuk oleh pekebun rakyat.
Saat ini, Indonesia memiliki 21 produsen benih sumber dengan 83 varietas kelapa sawit. Kapasitas produksinya mencapai 220 juta benih per tahun.
Riset Benih Sawit Dikembangkan di Riau
Salah satu pengembangan benih unggul dilakukan Asian Agri melalui program pemuliaan kelapa sawit DxP Topaz. Penelitian tersebut telah berlangsung selama empat dekade di sejumlah pusat penelitian, termasuk di Kampar dan Pelalawan, Riau, serta Tebing Tinggi, Sumatera Utara.
Melalui program pemuliaan berkelanjutan, potensi produksi CPO benih DxP Topaz meningkat 29 persen berdasarkan tiga seri pengujian progeni.
Pada seri 2004, potensi produksi CPO tercatat 9,3 ton per hektare per tahun. Angka tersebut meningkat menjadi 12 ton per hektare per tahun pada seri 2018.
Peningkatan juga terlihat pada perkebunan komersial. Di areal seluas 18.519 hektare, benih DxP Topaz mampu menghasilkan sekitar 7-10 ton CPO per hektare per tahun pada empat tipe tanah, yakni vulkanik, aluvial, inland, dan organik.
Bahkan, di kebun KGD, Riau, produktivitas rata-rata pada 13 blok dengan luas total 363 hektare mencapai 10,26 ton CPO per hektare pada 2022.
Pengujian generasi kedua yang berlangsung pada 2002-2025 juga mencakup 61 uji coba di lahan seluas 784 hektare, baik lahan mineral maupun organik.
Hasil pengujian menunjukkan produksi tandan buah segar (TBS) mencapai 24 ton per hektare pada tahun panen pertama dan meningkat menjadi 38 ton pada tahun panen ketiga hingga keenam. Rendemen minyak tercatat mencapai 29 persen dengan produksi CPO lebih dari 10 ton per hektare per tahun.
Dikembangkan untuk Tahan Penyakit Ganoderma
Selain mengejar produktivitas, pengembangan benih sawit juga diarahkan untuk menghadapi penyakit busuk pangkal batang akibat jamur Ganoderma.
Penyakit tersebut menjadi salah satu ancaman serius bagi perkebunan sawit, terutama pada tanaman generasi kedua dan ketiga.
Asian Agri melakukan skrining terhadap 10.664 progeni atau sekitar 1,39 juta bibit selama periode 2011-2025. Pengujian dilakukan menggunakan isolat Ganoderma dengan tingkat patogenisitas tinggi.
Dari proses tersebut, terpilih 18 persilangan yang menunjukkan toleransi terhadap penyakit Ganoderma. Varietas ini telah dilepas melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 45/KPTS/KB.020/2/2019.
Potensi produksinya mencapai 34,5 ton TBS dan 9,2 ton CPO per hektare per tahun.
Edy juga mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian genetik benih. Sebab, benih yang tidak murni dapat menyebabkan penurunan hasil dan mengurangi manfaat investasi jangka panjang dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit.
Sejak 2004, lebih dari 200 juta benih DxP Topaz telah didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia dan mancanegara. Transfer teknologi kepada pekebun juga dilakukan di sejumlah daerah, termasuk Bangka Belitung, Sarolangun di Jambi, Landak dan Sekadau di Kalimantan Barat, serta Parapat di Sumatera Utara.
“Dari perspektif benih, peningkatan produktivitas menjadi target dalam transformasi industri kelapa sawit nasional,” ujar Edy.
Dia menambahkan, kombinasi benih unggul yang teruji, penerapan agronomi presisi, dan transfer teknologi menjadi kunci untuk mempersempit kesenjangan antara potensi genetik dan produktivitas aktual di lapangan.
Upaya tersebut dinilai semakin penting seiring percepatan program peremajaan sawit rakyat (PSR). Pemilihan benih unggul sejak awal peremajaan akan menentukan potensi produksi kebun selama sekitar 25 tahun ke depan.



